Cara Menyelamatkan Al-Aqsha (Part II)
COMES-Seluruh ummat Islam baik yang berada di Barat maupun di Timurnya mencari cara bagaimana menyelamatkan Masjid Al-Aqsha dan Palestina dari cengkraman musuh Allah Yahudi laknatullah.
Untuk merealisasikan cita-cita ini perlu perubahan mendasar dari kita masing-masing.
Pertama, dengan membebaskan peribadahan kita dari sesembahan selain Allah, dari berbagai macam bentuk kesyirikan menuju peribadahan kepada Allah yang satu. Perlu perubahan secara mendasar dengan membentuk pribadi muslim yang berakidah, menempatkan Allah sebagai satu-satunya yang harus diibadahi dalam dirinya dan membentuk yang lainya agar hanya kepada Allah lah semua beribadah.
Dengan dasar ini akan terbentuklah suatu generasi yang akan mendapatkan kemenangan atas yahudi yang bercokol di Baitul Maqdis. Dengan akidah inilah semua akan membantu kaum muslimin, hingga batu dan kayu pun memanggil kepada pasukan Allah, “Wahai muslim, wahai Hamba Allah si yahudi sedang bersembunyi di belakangku, kemarilah !! bunuhlah ia !!
Jenis pendidikan yang konfrehensif seimbang berdasarkan aqidah yang bersih dari syirik, khurafat, bid’ah dan takhayul. Aqidah yang sesuai dengan al-Qur’an al-Sunnah al-Sahihah. Bersih dalam segala hal, menyangkut aqidah, ibadah, wala, bara, syari’ah dan hukum, tanpa membeda-bedakan atau melupakan satu sama lainya.
Kedua, mencari format persatuan ummat Islam berdasarkan satu kata yaitu berdasarkan Kitabullah dan sunnah Rasulallah, memegang keduanya tanpa bercerai berai (…berpegang teguhlah kalian terhadap tali Allah dan janganlah bercerai-berai…)
Dengan demikian, tidak akan mungkin tercipta persatuan melalui semangat nasionalisme arab. Karena semangat nasionalisme terhalang jurang yang dalam. Nasionalisme adalah suatu dakwah tanpa penerang ataupun jaminan pertolongan.
Pada saat yang sama Islam telah memberikan cara yang jitu mempersatukan masyarakat yang berlainan tempat dan jenisnya. Disatukan dalam satu kancah peleburan,. Akhlak dan sifatnya dididik menciptakan peradaban baru yang menyatukan antara timur dan barat.
Rasa kebersamaan dan persatuan mereka melebihi apa yang dirasakan anak-anak negeri manapun. Islam telah mengikat mereka dengan ikatan yang kokoh. Sebagaimana fiman Allah Ta’ala, “sesungguhnya orang-orang beriman adalah saudara”. Dan firmaNya, “Sesungguhnya ummat kalian adalah ummat yang satu, Aku lah tuhan kalian, maka beribadahlah padaku”.
Demikian juga hadits Rasulillah SAW. “Sesungguhnya keluarga bapak si pulan bukanlah wali-waliku. Sesunguhnya waliku adalah Allah dan orang-orang sholeh diantara kaum muslimin. Hanya saja mereka punya ikatan rahim (kekeluargaan).
Ikatan antara anak dan bapak digambarkan dalam al-Qur’an seperti ikatan antara Nuh Alaihi Salam dan anaknya Kan’an. Ketika ikatan iman tidak ada dalam diri Kan’an, maka hilanglah ikatan keluarga. Firman Allah, “Sesungguhnya ia (Kan’an) bukan kaluargamu, karena ia beramal tidak shalih”
Demikian juga dengan Ibrahim Alaihi Salam dan bapaknya Azar. Ketika ikatan aqidah tidak ada, maka Al-Qur’an menggambarkanya dengan musuh Allah. FirmanNya, “Ketika telah jelas kepadanya bahwa ia (Azar) adalah musuh Allah, Ibrahim kemudian berlepas diri darinya. Sesungguhnya Ibarhim adalah hamba yang banyak berdo’a dan lemah lembut”.
Seperti halnya Abu Lahab, pamanya Nabi Muhammad SAW. Dia termasuk golongan yang celaka, karena kekufuranya.
Namun Bilal seorang Habsyi, Syuhaib bangsa Rum dan Salman al-Farisi bahkan disebut oleh Rasulallah sebagai keluarga Nabi. Mereka adalah anak bangsa terbaik ummat ini.
Demikianlah Islam menjadikan bangsa Arab, farsi (Iran), Kurdi, Turki, Barbar, India, China, Kirkuk dan yang lainya sebagai ummat yang satu, yang mempunyai satu sejarah, satu peradaban, satu hari raya dan satu bahasa agama. Sejarah telah membuktikan, para raja yang mendiami wilayah Syam dan Baitul Maqdis, pada asalnya bukan dari bangsa Arab, tetapi dari bangsa Tartar. Namun mereka berperang dengan semangat Islam dan berjuang dengan ruh Islam. Demikian juga dengan Shalahuddin al-Ayubi, seorang bangsa Kurdi, namun kearabanya terpelihara dan terjaga ketika ia menyerang tentara Salib. Islam yang ada pada dadanya yang telah mengalahkan kaum salibis…
Kini saatnya bagi kita untuk membuang jauh-jauh sikap kesukuan, nasionalisme, soialisme, ateisme dan sekulerisme yang berbendera kegagalan dan perpecahan ummat.
Marilah kita jadikan bendera Al-Islam yang mengajak kepada penyatuan usaha dan jihad di jalan Allah ( Sessungguhnya bagi Allahlah yang mewaritskan barang siapa yang ia kehendaki, dan akibat yang baik bagi orang-orang bertakwa) sebagai bendera kita, semangat perjuangan kita.
Ketiga, malam ini tidak sama dengan kemarin. Ketika kaum muslimin mendapatkan musibah pada pertengahan abad kelima hijrah, sebelum penaklukan Baitul Maqdis oleh gerakan Batiniyah Zainal Abidin, golongan Hasyasyin, Nashiriyin dan All-Druwej.
Saat ini kita sedang diuji oleh gerakan-gerakan sebelumnya belum ada, seperti Qadyaniyah dan Bahaiyah. Jika kedua pemimpin besar ummat Islam Nuruddin Zanki dan Shalhuddin al-Ayubi telah sepakat atas bahayanya Negara Ibadiyiin terhadap kesatuan ummat Islam. Maka hari ini, kitapun harus waspada dan menghadang dengan segala kemampuan terhadap kedua gerakan tadi, (Qadyani dan Bahai) dalam rangka persatuan ummat. Karena mereka ini seperti duri dalam daging.
Keempat, satu-satunya cara untuk memerangi yahudi adalah mengusir mereka dari Baitul Maqdis dengan dasar Sabilillah (perang di jalan Allah).
Gambaran jihad yang agung dan bentuk mati syahid yang paling indah adalah apa yang dilakukan para pemuda Palestina di medan jihad dengan operasi mati syahidnya yang menggentarkan bangsa monyet dan babi (Israel) itu. Operasi itu telah menciutkan hati-hati mereka seperti takutnya bangsa babi.
Ketika operasi jihad ini bisa menjawab keberadaan etnis manusia, dengan cara meledakan dirinya, dikarenakan ketatnya penjagaan dari pihak Israel. Apakah dengan membungkus badan dengan bahan peledak atau dengan menyerang tangsi militer lewat kendaraan yang penuh bahan peledak atau dengan menjatuhkannya lewat pesawat. Maka jumhur ulama saat ini, sepakat atas bolehnya dan disyariatkanya perlawanan seperti ini, dengan dasar keumuman nash-nash baik di dalam Al-Qur’an maupun Al-Sunnah yang menganjurkan untuk memerangi kaum kafirin, sebagai konsekwensi perbuatan mereka memusuhi Allah dan dalam rangka melindungi agama Islam ini. Sebagaimana firman Allah SAW. diantaranya, “perangilah mereka (Kafir) hingga tidak ada lagi fitnah dan agar agama semuanya milik Allah”. Hadits Nabi diantaranya, ada tiga orang yang dicintai Allah, diantaranya seseorang yang menemui musuhnya dalam satu barisan dan ia menggadaikan lehernya hingga terbunuh atau dia mendapatkan kemenangan bagi sahabat-sahabatnya.
Sabda NAbi lagi, sebaik-baik kehidupan manusia adalah, seseorang yang memegang kendali kudanya di jalan Allah, lalau dengan cepat ia lari ketika mendengar suara panggilan, ia menyerbu ke medan perang dengan mengharap perang dan kematian yang dicita-citakanya.
Demikian juga dengan kisah Ashabil Uhdud, ketika ia mengorbankan dirinya untuk dibunuh oleh sang raja dengan syarat, raja tersebut beriman dulu pada Allah dengan mengucap bismilllah ketika memanahnya.
Jika para ahli Ilmu generasi awal sudah berpendapat disyariatkanya menyerang musuh dan menceburkan diri mereka dalam barisanya, walau diyakini hal itu akan membinasakanya, karena sedikitnya persiapan atau minimnya peralatan, maka hal tersebut dibolehkan dengan tujuan mengalahkan musuh dan menghancurkan kepongahannya.
Sama halnya dengan situasi sekarang, bila tujuanya sama maka hal tersebut diperbolahkan bahkan dianjurkan.
Imam Muhammad bin Al-Hasan Al-Syaibani, muridnya Imam Abu Hanifah mengatakan, kalaupun seorang muslim menghadapi 1000 orang musyrik, itupun diperbolehkan, jika ia meniatkan untuk mencapai kemenangan dan menghancurkan musuh atau dalam rangka menakut-nakuti musuh atau memperlihatkan izzah kaum muslimin.
Demikian juga kalau niatnya untuk memberikan manfaat bagi kaum muslimin dalam rangka meningkatkan Izzah agama Islam dan menghinakan kaum kafirin, maka hal tersebut dipuji oleh Allah sebagai amalan yang mulia. FirmanNya, “Sesungguhnya Allah telah membeli dari kaum mu’min, diri mereka dan harta mereka dengan surga.
Hal senada diungkapkan Abu Bakar Al-Maliki, tentang bolehnya menyerang musuh yang berada di dalam laskar, jika tidak ada kesempatan untuk mengalahkan mereka, maka hal itu dianjurkan dengan beberapa syarat berikut ini, menginginkan mati syahid, adanya upaya balasan dari kejahatan musuh, adanya keberanian dan lemahnya kondisi kaum muslimin, dimana mereka menganggap bahwa aksi ini adalah satu-satunya cara untuk membalas atau mengalahkan mereka. Dalilnya adalah apa yang dilakukan Salamah bin Al-Akwa’, Ahzam al-Asadi dan Abi Qatadah, yang diriwayatkan oleh Uyainah bin Hashan yang menyatakan bahwa Rasulallah SAW. memuji tindakan yang dilakukan ketiga sahabat tadi. Beliau bersabda, sebaik-baik lelaki kalian adalah Salamah.
Imam Al-Nuhas mengatakan, hadits di atas sahih dan menunjukan disyariatkanya melemparkan seseorang (sendirian) kepada musuh yang banyak walau menurut kayakinan kuat ia akan terbunuh, jika niatnya dalam rangka mencapai mati syahid, sebagaimana dilakukan oleh Ahzam al-Asadi.
Demikian pula dengan tindakan yang dilakukan Baro bin Malik pada perang Yamamah. Ketika ia diikatkan pada alat pengungkit dan dilemparkan ke dalam barisan musuh untuk membuka pintu pertahanan mereka. Dan ternyata tidak ada satupun diantara para sahabat yang memprotes tindakan tersebut.
Selain itu, kisah Anas Bin Nadhar yang menyerbu sendirian pada barisan musuh sambil berkata, aku mencium baunya surga pada perang Uhud, hingga ia syahid.
Sulthan para ulama, Al-Izz bin Abdi Salam mengatakan, meningkatkan izzah diri pribadi hanya boleh dilakukan jika ada keperluan untuk meningkatkan Izzaah Agama Islam dengan menghancurkan kaum musyrikin.
Imam Nawawi pernah berkata, telah terjadi kesepakatan para ulama dalam masalah izzah ini jika dalam kontek Jihad fi sabilillah.
Selama para tentara di Negara-negara muslim pada jinak, tidak mau bergerak ditengah arogansi yahudi dan pembantaian mereka terhadap kaum muslimin. Atau kondisi mereka yang dikendalikan oleh kaum munafiqin durjana, maka tidak ada jalan lain untuk menggetarkan musuh Israel ini kecuali dengan operasi mati syahid, maka tentu hal ini dianjurkan.
Adapun perundingan-perundingan damai yang sering dilakukan, justru akan menambah arogansi dan permusuhan Israel kaum muslimin. Perundingan tidak akan membawa manfaat bagi kaum muslimin, kecuali kehinaan dan penderitaan.
Masalah Palestina dan Masjid Al-Aqsha bukanlah tanggung jawab bangsa Palestina saja atau bangsa Arab saja. Tidak boleh seorang pun bernegosiasi dalam hal ini. Masalah Palestina adalah kewajiban setiap muslim. Tantu bagi kaum muslimin yang berada di sekitar Palestina lebih ditekankan lagi kewajibanya.
Sesungguhnya yang paling ditakuti ummat yahudi hari ini adalah bangkitnya ruh Islam di kalangan kaum muslimin dan juga merebaknya semangat jihad dan cinta mati syahid di kalangan para pemuda Islam. Sebagaimana diungkapkan Ben Gorion dalam salah satu konfrensi zionis sedunia, “Kita tidak mengkhawatirkan sosialisme, revolusiisme ataupun demokratisasi di kawasan. Yang kita takutkan adalah Islam yang sudah tidur panjang yang kini mulai siuman.
Kelima, kita wajib menghilangkan cinta dunia dari hati-hati kita dan menetapkan bahwa kenikmatan akhirat adalah kenikmatan yang abadi selamanya (“Apa yang ada di diri kalian akan habis dan apa yang ada di sisi Allah akan kekal. Dan pasti kami akan memberikan pahala bagi orang-orang sabar dengan balasan yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan).
Lihatlah bagaimana Shalahuddin al-Ayubi telah mencurahkan segala kesanggupanya dengan meninggalkan segala kesenangannya. Ia menghisasi dirinya dengan pakaian agama, memelihara panji agama Islam dan kaum muslimin. Ia tidak pernah merasakan nikmatnya istirahat hingga berjumpa dengan Tuhanya. Sebagaimana diungkapkan pengarang kitab Raudhatain fi Akhbari Daulatain, Salahahuddin seorang panglima yang memanggul batu-bata sendiri ketika ia membangun pagar al-Quds. Pengarang buku tersebut mengomentari, kalaupun aku melihat ia (Salahuddin) memanggul batu di pangkuanya, namun aku tahu sebenarnya ia memanggul gunung dalam fikirannya.
Ia akan mendapatkan kemenangan dengan izin Allah
Setelah diuji dengan harta dan anaknya
Kerajaan dzolim tidak kekal salamanya
Dia tidak akan tetap berdiri selain satu-satunya
Matahari akan muncul mengusir pekatnya malam
Terbitlah fajar di atas kemudahan dan kemegahan
Al-Quds akan kembali menghiasi setiap menara
Sebagaimana janji Allah yang mulia pemberi nikmat setiap hamba.
(asy)


0 Comments:
Post a Comment
<< Home